Di tengah perayaan Hari Kebangkitan Nasional 2026, peta kebijakan ekonomi Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma. Pemerintah mulai menunjukkan keseriusan dalam melakukan transisi fiskal dari ketergantungan pada bahan bakar fosil menuju ekonomi hijau yang lebih resilien. Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan strategi bertahan menghadapi volatilitas pasar energi dunia.
Transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber daya, tapi soal mengubah struktur neraca dagang Indonesia agar tidak lagi rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah global.
Alih-alih mempertahankan model subsidi tradisional yang membebani APBN, pemerintah kini mulai melirik skema Carbon Tax yang lebih progresif. Analisis kami menunjukkan bahwa langkah ini akan meningkatkan daya saing ekspor produk Indonesia di pasar Uni Eropa yang kini semakin ketat dengan aturan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).
Kebijakan ini tentu memiliki risiko politik, terutama terkait resistensi dari sektor manufaktur tradisional. Oleh karena itu, pendekatan just transition yang melibatkan transisi tenaga kerja menjadi sangat vital agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan geopolitik energi. Sebagai produsen nikel dan pemegang cadangan logam tanah jarang terbesar, posisi tawar kita dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global sangat kuat. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar, melainkan harus menjadi pemain utama dalam teknologi transisi energi.
Kesimpulannya, kebijakan publik Indonesia di tahun 2026 harus berfokus pada keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi inklusif. Transformasi ini mungkin menyakitkan dalam jangka pendek, namun merupakan investasi mutlak demi stabilitas jangka panjang.