Dalam dunia yang serba cepat hari ini, 9 Mei 2026, kita sering berasumsi bahwa seluruh fakta sejarah dan data dunia tersimpan aman di awan digital. Namun, sebagai pengamat sejarah dan teknologi, saya melihat celah besar: Digital Dark Age. Meskipun efisien, ketergantungan kita pada format digital menciptakan fragilitas yang tidak dimiliki oleh tinta di atas kertas atau pahatan batu.
Banyak yang beranggapan bahwa arsip digital adalah cara terbaik untuk melestarikan fakta menarik masa lalu. Opini saya justru sebaliknya: data digital sangat rapuh karena bergantung pada perangkat keras dan perangkat lunak yang terus berubah. Sebaliknya, arsip analog bersifat mandiri.
Kenyataannya, arsip analog adalah satu-satunya bentuk data yang memiliki "jangka waktu" tanpa perlu pembaruan sistem. Dalam sejarah, keberlangsungan adalah kunci, dan kertas telah membuktikannya selama ribuan tahun.
Saat kita melangkah lebih jauh ke era AI, kita cenderung memigrasikan segala sesuatu ke bentuk bit dan byte. Namun, sejarah dan fakta masa lalu sering kali hilang saat format penyimpanan lama tidak lagi didukung. Alih-alih melakukan digitalisasi total, kita sebaiknya menerapkan sistem hibrida di mana dokumen fisik tetap menjadi 'sumber kebenaran' utama.
Digitalisasi memang memudahkan akses, tetapi pelestarian sejarah membutuhkan dedikasi pada fisik. Jangan biarkan masa depan kita menjadi buta sejarah hanya karena kita lupa cara merawat arsip yang nyata.