Dunia sosial dan budaya kita sedang mengalami pergeseran tektonik. Di tahun 2026, bukan lagi kurator museum atau tetua adat yang menentukan apa itu 'budaya luhur', melainkan algoritma rekomendasi yang sangat personal. Fenomena ini menciptakan efek filter yang justru mengisolasi keberagaman dalam kotak-kotak digital yang sempit.
Alih-alih sekadar melestarikan, digitalisasi masif justru berisiko membekukan budaya dalam format data yang tidak bernyawa jika kita tidak mampu menanamkan nilai otentik di dalamnya.
Kita sedang menyaksikan fenomena di mana estetika budaya mulai menyeragam demi memenuhi standar 'visual viral'. Berikut adalah risiko nyata dari fenomena ini:
Kita tidak bisa melawan arus digitalisasi, namun kita bisa mengubah arah kemudinya. Menggunakan teknologi untuk literasi budaya adalah kunci. Alih-alih membiarkan AI menentukan tren, kita harus menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mendokumentasikan arsip yang benar-benar akurat.